Rabu, 09 Agustus 2017

Batik Hokokai


Batik Jawa Hokokai adalah batik yang diproduksi orang Indonesia berdarah Tionghoa dengan pola dan warna yang dipengaruhi budaya Jepang dengan latar pola batik keraton. Batik ini mulai berkembang pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Ragam hias yang biasanya ada pada batik Jawa Hokokai adalah bunga sakura, krisant, dahlia dan anggrek dalam bentuk buketan atau lung-lungan dan ditambah ragam hias kupu-kupu, selain itu ada pula ragam hias burung merak yang memiliki arti keindahan dan keagungan
Batik Hokokai diciptakan para pengusaha berdarah Tionghoa dengan tujuan menyesuaikan diri dengan pemerintahan Jepang. Nama Jawa Hokokai diambil dari nama organisasi yang membantu kegiatan Jepang menciptakan kemakmuran di Asia yang dalam berbagai kegiatan bekerjasama dengan orang Jawa. Dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, kita mengenal organisasi “Jawa Hokokai” (Himpunan Kebaktian Rakjat Djawa), yaitu perkumpulan yang dibentuk oleh imperialis Jepang pada tanggal 1 Maret 1944, sebagai pengganti organisasi Putera. Jawa Hokokai meerupakan organisasi resmi pemerintah yang berada di bawah pengawasan pejabat Jepang. Berdirinya organisasi ini sebagai pelaksana pengerahan / mobilisasi barang yang berguna untuk kepentingan perang.
salah satu jenis batik hokokai wikipedia.org

Kain-kain batik Jawa Hokokai yang dipamerkan di Gedung Arsip Nasional itu hampir semuanya merupakan batik pagi-sore dengan warna yang cemerlang. Kupu-kupu merupakan salah satu motif hias yang menonjol selain bunga. Meskipun kupu-kupu tidak memiliki arti khusus untuk masyarakat Jepang, tetapi orang Jepang sangat menyukai kupu-kupu. Namun, kupu-kupu dianggap bukan merupakan pengaruh Jepang, melainkan pengaruh dari juragan Tionghoa yang membuat batik di workshop mereka. Untuk orang Tionghoa, terutama yang berada di Indonesia, kupu-kupu merupakan lambang cinta abadi seperti dalam cerita Sampek Engtay.
Setelah Perang Dunia II usai, Jepang takluk dan angkat kaki dari Indonesia, batik sebagai industri mengalami masa surut. Namun, motif-motif batik terus berkembang, mengikuti suasana. Ketika itu juga muncul istilah seperti batik nasional dan batik Jawa baru. Batik Jawa baru bisa disebut sebagai evolusi dari batik Hokokai. Pada tahun 1950-an batik yang dihasilkan masih menunjukkan pengaruh batik Hokokai yaitu dalam pemilihan motif, tetapi isen-isen-nya tidak serapat batik Hokokai.

            Artis batik yang kembali mengangkat kembali motif Hokokai adalah Iwan Tirta. Pada tahun 1980-an Iwan menginterpretasi ulang motif batik Jawa Hokokai dalam bentuk desain yang baru. Ia memperbesar motif bunga seperti krisan dan mawar serta menambahkan serbuk emas 22 karat sebagai cara untuk mempermewah penampilan batik tersebut. Untuk pergelarannya pada akhir tahun ini, Iwan juga membuat motif kupu-kupu dalam ukuran besar.

Beberapa ciri khas batik Hokokai antara lain:
  • Adanya pola “frame” yang biasa disebut “susimoyo” – yaitu ragam hias bunga yang diatur sebagai pola pinggiran – ada yang memanjang di sisi bawah dari kiri ke kanan, atau di 3 sisi kain, yaitu sisi kiri, bawah dan kanan. Susunan seperti ini adalah adaptasi dari ragam hias kimono Jepang.
  • Ragam hias menggunakan motif-motif bunga sakura, krisan, dahlia dan anggrek (jenis bunga-bunga yang disukai oleh Jepang) dalam bentuk buketan / lung-lungan yang berulang-ulang, yang merupakan adaptasi dari motif buketan semarang.
  • Ragam hias tambahan berupa kupu-kupu (pengaruh Tionghoa yang merupakan lambang cinta abadi seperti dalam legenda Sampek Engtay), atau gambar burung yang selalu menggunakan burung merak yang memiliki arti keagungan.
  • Latar belakang (isen-isen) yang penuh dan padat di bagian tengah kain dengan menggunakan motif-motif keraton, seperti kawung dan parang.
  • Menggunakan banyak variasi warna yang cerah.
  • Pada masa ini jenis batik pagi-sore juga banyak digunakan dalam batik Hokokai.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.